Tuesday, May 31, 2011


http://bogatika.files.wordpress.com/2011/04/friendster-logo1.jpg
Mengenang Friendster... 
 
PENGANTAR: Selasa kemarin (31/5) ini Friendster yang kita kenal dulu tutup. Situs tidak mati, tapi akan berubah format. Makanya, semua pengguna Friendster diminta menyelamatkan foto-foto dan catatan di blog Friendster paling lambat 31 Mei ini. Friendster akan membersihkan semua data akan segera mengubah format tersebut.
 
Mengenang Friendster, kami menyajikan tulisan soal situs itu yang pernah dimuat tabloid ini. Mari mengenang Friendster sambil mengingat-ingat testimoni-testimoni di halaman profile Friendster kita, foto-foto jadul, friend request yang belum sempat di-approve (karena kita keburu hijrah ke Facebook), atau ketawa-ketawa mengingat mantan pacar ternyata masih suka melihat profil kita...

 
Tak Cuma Friendster di Jagad Maya

 
AWALNYA adalah seorang Jonathan Abrams, mantan insinyur perangkat lunak dari Netscape, sebuah browser Internet paling awal. Ia jenuh melihat situs jodoh yang katanya "begitu-begitu saja." Ia lantas membangun perangkat lunak yang memungkinkan orang saling bertemu, berkenalan, dan berteman dalam arti sebenarnya. Perangkat lunak itu bisa membuat seseorang berteman dengan seorang lainnya, lalu berteman lagi dengan temannya teman, dan begitu seterusnya.

 
Nama Friendster diambil dari gabungan kata "friend -- teman" dan "Napster". Napster sebuah situs yang memungkinkan orang berbagi informasi (umumnya musik) via Internet. Nah, Friendster dimaksudkan agar orang saling berbagi pada teman-temannya.

 
Semula, Abrams memulai Friendster serba sederhana, dari ruang tengah rumahnya sekitar Maret 2003. Ia tak pernah mengumumkan situsnya ke publik. Pekerjanya cuma 10 orang insinyur. Dan baru pada Juli 2003 ia pindah kantor di luar rumahnya. Sejak itu, situsnya malah makin dikenal luas. Padahal, Abrams tak pernah mengiklankannya. Orang tahu justru dari mulut ke mulut. Selang beberapa bulan, November 2003, sudah 3 juta orang terdaftar ke situsnya. Abrams dan timnya sudah mengantongi keuntungan 13 juta dollar.
Perusahaannya dihargai senilai 53 juta dollar. Lebih dari setahun kemudian, Mei 2004, pelanggan Friendster tercatat 7,7 juta orang.

 
Kini jumlah pengguna Friendster mencapai angka 33 juta. Tapi, sebenarnya, Friendster tak sendirian. Situs ini juga tak amat berjaya. Situs sejenis lainnya adalah Orkut, Ryze, MySpace, Tribe, Ecademy, hingga Linkedin. "Friendster itu salah satu situs social networking-jaringan sosial," sebut Budi Putra, wartawan Koran Tempo yang juga content manager situs Tempo Interaktif. Dalam sisi teknologi, jelas Budi, Friendster masuk kategori situs berbasis Web 2.O. "Bisa dikategorikan blog," katanya.

 
Namun, Friendster lebih khas karena kebanyakan orang bergabung, "untuk mencari afiliasi, mencari teman lama atau baru." Halaman pribadi Friendster lebih dinilai bukan dari isinya, tapi pada berapa jumlah temannya atau seberapa banyak testimoni untuknya.

 
Ditilik dari niatan awalnya, Friendster ditujukan untuk mencari teman, bahkan sebagai bentuk lain situs cari jodoh. Tapi, masalahnya, mungkinkah sebuah pertemaman bisa berlangsung di jagad maya? Danah Boyd, seorang mahasiswa PHD di School of Information Management Systems di University of California, Berkeley menyebut, "orang berharap demikian. Tapi kebanyakan pemakainya cuma pengin iseng dan bersenang-senang." Budi tak sesinis itu. Ia tak menampik jagad Internet yang anonim dijejali orang-orang beridentitas palsu. Hanya saja, sekali pakai identitas palsu, itu melanggar etika dasar ber-social networking di Internet. "Esensi social networking adalah saling mengenal, saling percaya, dan saling memberi informasi," jelasnya. "Saat kita mengungkapkan identitas asli, berarti kita tak percaya pada orang lain. Lalu, buat apa kita punya alamat di Friendster?" Sebab, menurutnya, esensi Friendster justru membuat setiap orang saling terhubung satu sama lain. Oleh karena itu, menurutnya, kalau orang takut membuka diri, mending jangan punya Friendster. "Buang-buang waktu saja namanya, kalau kita punya 10 account, tapi tak satu pun yang isinya benar."

 
Kalah pamor dari MySpace
Menurut Budi, sebenarnya Friendster lebih populer di Asia kendati lahir dari AS sana. "Lebih dominan lagi di Asia Tenggara," bilangnya. Orang Amerika Utara atau Eropa lebih akrab dengan situs MySpace. Sejumlah selebriti, sebutnya, punya account di MySpace. "Karena MySpace punya fitur lebih lengkap," ujarnya. Dan memang benar begitu. Tahun ini anggota MySpace mencapai angka 85 juta. Tahun lalu, situs ini melampaui situs pencari Google dalam hal web traffic.

 
Sejumlah selebriti khusus memanfaatkan MySpace untuk berpromosi. Janet Jackson memperlihatkan video klip teranyarnya (Call on Me) di MySpace. Sementara itu, penyanyi Neil Diamond merilis album 12 Songs di MySpace dulu, baru ke toko kaset 5 hari kemudian. Tak cukup sampai situ, serial komedi The Office tayang duluan dalam bentuk webisode di MySpace sebelum stasiun teve NBC menyiarkannya. Lalu, promosi besar-besaran film X-Men: The Last Stand berlangsung juga di situs itu. Terakhir, Agustus kemarin MySpace Comedy diluncurkan. Salah satu anggotanya komedian Carlos Mencia.

 
Menurut Budi, setiap selebriti selayaknya memanfaatkan setiap situs social networking yang ada. "Entah itu MySpace, Friendster, atau situs-situs blog seperti Wordpress atau Blogspot," sebut Budi. "Intinya, mereka harus memanfaatkan sarana itu untuk publisitas." Ia bilang, situs-situs itu sarana pemasaran yang luar biasa. Sejumlah selebriti sini sudah memanfaatkan Friendster selayaknya situs buat bertemu fansnya. Promosi kecil-kecilan sudah dilakukan Emma Warokka, presenter nan seksi itu. Di alamat Friendster-nya, Emma sering posting di bulletin, memberi tahu atau mengingatkan teman-temannya untuk tak lupa menonton acara yang dipandunya. "Saya sering begitu," katanya. Itu baru langkah awal nan sederhana. Entah kapan ada yang memanfaatkan situs sejenis untuk bepromosi besar-besaran seperti selebriti di sana.


Sumber :
dunia-unik.com